
Hari ini tidak ada Studi Islam Intensif. Salah satu kajian di salah satu lembaga yang biasa ku ikuti. Tepatnya Youth Islamic Study Club Al-Azhar. Bingung mau ngapain. Masih terpaku di depan layar laptop. Tulisan sudah kelar. Email, Facebook, Friendster dan semua situs pertemanan lainnya sudah ku ulas. Muter otak mau kemana. Akhirnya ku temukan jawaban. Jogging, ya J-O-G-G-I-N-G !
Matiin laptop, ganti baju, beresin tempat tidur, pake sepatu, matiin ac, lampu, ngaca dikit
, kunci kamar, cabuuuuuuuuuuuuuuuuut!
’ Ma, pergi dulu …Assalamu’alaikum’ kutinggalkan Mama-setelah mencium tangannya-yang masih melihatku dengan tatapan bingung ketika meninggalkan gerbang dengan pintu yang kutinggalkan dalam keadaan tidak tergembok.
Tanpa tujuan yang jelas, ku telusuri jalan. Mau kemana ya. Bawa uang cuma beberapa ribu. Ah, pusingin amat. Sambil celingak-celinguk takut-takut nanti ada kendaraan yang menabrakku. Sesekali aku berlari kecil. Tiba-tiba aku punya ide. Aku mau ke Kampung Sawah. Kampung Sawah adalah salah satu kampung di Kecamatan Pesanggarahan.
Dengan berpeluh keringat yang mulai bercucuran, sampailah aku. Lapar mulai melanda perut. Bunyi-bunyian ’protes’ nampaknya tidak bisa ku tahan.
Duduk dulu ah, cape. Pikirku.
Ada masjid -yang didirikan oleh pemilik yang sama dengan Masjid Kubah Emas di Depok- beberapa meter di depanku. Yang empunya memang bertempat tinggal di dekat masjid ini pertama kali. Masjid yang bisa dibilang cukup ekstrim di antara sekitarnya. Design yang mewah cukup untuk memalingkan muka orang-orang yang melintas.
Dengan napas tersengal-sengal, ku coba atur napas. Mataku tidak pernah lepas dari pandangan orang yang lalu lalang di depanku. Ada ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya. Sang anak tidak lepas melihatku sampai mereka berdua hilang dari pandangan. Jangan-jangan itu anak berpikir aku ini peminta-minta yang biasa nangkring di Masjid. Hahaha. Kalo dipikir-pikir ada benarnya juga sih. Aku berdandan gembel sekali. Berpakaian sekenanya.
Ada tukang bubur, sambil mengetuk mangkok dengan sendok sehingga mengeluarkan bunyi ’ting..ting..’. Disusul tukang ketoprak, jamu, bandeng presto dan tukang jajanan lain yang biasa mondar-mandir di pagi hari.
’Astaghfirullahal’azhim….’ Tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh tepukan di pundak. Hampir saja aku loncat. Aku berpikir yang tidak-tidak. Kirain ada yang mau membiusku. Halah lebai deh
’Assalamu’alaikum…’ sapa orang itu. Sesosok wanita, tinggi, berjilbab, aku tebak sepertinya dia sudah berkeluarga, paling banter beranak 3.
’Wa’alakumsalam …’ jawabku.
Dialog singkat pun bergulir selama beberapa menit. Dia bercerita banyak. Diantaranya karakter masyarakat sekitar. Sampai nasihatnya mengenai kehidupan rumah tangga. Dia bilang sebagai seorang perempuan, kita harus bisa mengaktualisasikan diri. Baik di dalam maupun di luar rumah. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungan. Sesekali ku aminkan setiap perkataan dan nasihatnya. AMIN Ya ALLAH !
Aku pamit. Melanjutkan petualangan. Kembali jalan menelusuri gang-gang kecil. Ada rumah petak kecil. Di depannya ada meja terhampar sayur-mayur. Seorang ibu sedang duduk sambil mengusir lalat yang mengerubungi dagangannya. Belum ada pembeli nampaknya. Tidak ada yang aneh. Beberapa langkah melewatinya, aku kaget. Ternyata di balik meja itu, ada sesosok laki-laki sedang menyuci pakaian. Pasti itu suaminya. Pikirku. Ironi yang menyejukkan mata. Ikhlas benar suami itu mengganti peranan sang istri. Ckckkkkk … HEBAT !
Ku tinggalkan sepasang suami yang bertukar peran itu. Beberapa meter di depanku ada anak laki-laki kecil berjalan sambil menenteng plastik berisi minuman. Sesekali ia menyedot cairan di dalamnya. Dalam hati, sudah ku hujat saja anak itu : PASTI MINUMAN TIDAK SEHAT !!!!. Ketika berpapasan, ku tanya anak itu, ’Minum apa dek ?’. dengan malu-malu ia menjawab ’Susu kedelai’. Terbelalak mataku seketika. Wah hebat benar anak ini, di tengah maraknya jajanan anak-anak yang tidak sehat, dia memilih untuk BERBEDA !. Andai saja anak-anak Indonesia seperti dirinya.
Wah bunyi lagi ! perutku sudah tidak bisa di ajak kompromi rupanya. Dan tepat sekali, ada lapak kecil berjarak 5 langkah di depan. Ada sekitar 2 pembeli sedang mengantre. Aku masuk. Duduk. Sambil sesekali tersenyum kecil kepada orang-orang ketika mata kami beradu. Ku lihat panganan yang tersedia. Ada ketupat, panci kecil berisi sayur, gorengan, nasi uduk, krupuk dan teko yang berisi teh pahit. Selesai melayani 2 pembeli tadi, si penjual menatapku. Pasti ia mau menanyakan makanan apa yang mau kupesan. Dengan sigap langsung ku jawab ’Lontong sayur 1, makan sini Bu !’ sebelum ia sempat melontarkan kata-kata. Kalau untuk urusan makanan biasanya aku selalu sigap
Aku menikmati semangkok lontong sayur dengan sangat khidmat. Pantes saja ku berlaku demikian, perutku lapar sekali. Sebelum kuhabiskan, ternyata ada tangan kecil menyodorkan gelas berisi teh di depanku. Berhenti sejenak, ku telusuri tangan itu, sampai nampak keseluruhan yang empunya tangan. Ternyata anak perempuan. CANTIK, berambut panjang. Ketika beradu pandangan, dia langsung menunduk ketika ku tersenyum padanya. ’Terimakasih. Namanya siapa ?’ mulai ku buka pembicaraan. Dia masih belum mau menjawab. ’Surti’. Jawaban itu bukan datang dari mulut anak perempuan tadi tapi dari si Penjual yang melayaniku. ’Ooo..’. Jawabku. ’Dia pemalu Mba’e. Kalau ditanya sama orang yang belum kenal ya begitu itu’ lanjutnya. Aku maklum. Mungkin karena takut denganku atau sifat minder yang biasa menjangkiti anak-anak seusianya. Ku lanjutkan menghabiskan makanan. Selesai. Ku tutup dengan doa. ’Berapa bu ?’ tanyaku sambil merogoh kantong jaket. ’dua ribu mbak’e…’ jawabnya.
Hah …Dua ribu ? Yang benar saja …. makanan yang mampu membuat perutku ’meledak’ ini hanya berharga segitu. Ck … ck … ironi sekali di tengah kondisi kota metropolitan yang serba mahal masih ada makanan pokok dengan bandroll 2-0-0-0 rupiah. Subhanallah. Pasti kecil sekali untungnya. Terkadang memang mereka berjualan hanya untuk menyambung nasib dan bukan mengejar keuntungan yang fantastis. Ku ulurkan tangan sambil menggenggam uang 5000 rupiah. Diterima dengan badan sedikit membungkuk tanda penghormatan dari Ibu Penjual. Pecahan seribu yang berjumlah 3 di ulurkannya kepadaku sambil berkata ’Terimakasih Mbak’e. Ku terima dan membalas ucapannya. Aku keluar lapak. Ternyata anak kecil yang membantu tadi sedang duduk. Ku hampiri saja dia. Duduk bersisian dengannya. ’Surti namanya ya?’. ’Ia’. ’Umurnya berapa’. ’15’. ’Sekolah?’.’Enggak’. ’Terakhir kelas berapa?’. ’Enam’.
Pembicaraan kami berhenti sejenak. Ada sesuatu yang bergetar. Ternyata Hapeku berbunyi. Ku angkat. Ida-adikku menelepon. Dia menanyakan keberadaanku. Intinya semua keluargaku mau pergi ke tempat kakakku yang sudah berumahtangga di daerah Serpong. Ia menanyakan apa aku mau ikut serta dengan mereka. Ku jawab ya maulah. Masa ditinggal sih. Aku bilang untuk menjemputku di jalan raya dekat lokasi aku berada sekarang.
Ku masukkan hape ke dalam kantong jaket kembali. ’Surti … semoga Surti nanti sukses ya. Dapat apa yang Surti inginkan. Terus berjuang untuk mendapatkan apa yang Surti mau…’ sambil ku belai rambutnya yang hitam panjang terurai. Ia masih saja tertunduk. Ketika ku bilang untuk pamit, baru Ia berani menangkat kepalanya memandangku. Kita saling menatap. Memberinya senyum, dan pasti itu senyum terakhirku padanya. Ajaibnya dia membalas, DIA TERSENYUM !!! Masya ALLAH manis sekali anak ini. Sungguh Cantik. Seandainya nasib berkata lain. Tentu ia sudah menjadi primadona di sekolahnya. Ia menyalamiku. Mencium tanganku dengan takzim. Sebelumnya sudah kusematkan beberapa lembar ribuan. Dia sedikit kaget. Langsung aku ngeloyor pergi, takut-takut dia mengembalikan uang itu kembali. ’Daghhhh… Surti !’
Wah, perjalanan menuju jalan raya terdekat cukup jauh dari sini. Pasalnya aku sudah menelusuri gang-gang di Kampung Sawah ini cukup dalam. Lelah, kenyang, pegel, campur aduk sudah kondisiku. Tapi aku harus berjuang, tidak ada ojek soalnya. Lagian juga malu, masa niatnya membakar eh malah menimbun lemak gini ya, hehehe. Ah…Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Tengok kiri kanan. Jangan-jangan aku sudah terlewati. Ku lirik jam, ah baru 5 menit sejak adikku menelepon. Pasti belum sampai. Dan benar saja, belum lama aku berdiri, aku melihat mobil yang cukup familiar untukku. Mobil butut berwarna hitam melintas di depanku sambil membunyikan klakson. Langsung aku berlari kecil menujunya. Masuk mobil dan melanjutkan petualangan minggu pagiku berikutnya …. berharap semoga petualangannya adalah wisata kuliner kembali. Hahaha … Dasar Gembul !