SI BeruntunG

BapakKUSelasa, 2 Desember 2008

Pagi ini, aku menjadi orang yang sangat beruntung. Hanya karena satu hal yang sepele. Begini ceritanya,

Masa pensiun yang bapak jalani saat ini sudah memasuki bulan ketiga. Aku perhatikan bapak sepertinya sedikit berubah. Bapak sedikit mudah marah, sedikit pendiam, sedikit kurang ramah, dan lebih suka menyelesaikan urusannya sendiri. Mengapa ku katakan sedikit, karena biasanya memang kepribadian bapak hampir mendekati yang demikian. Setelah pikir panjang, timbul pertanyaan : apakah Bapak terkena post power syndrom, seperti yang dialami oleh kebanyakan orang ketika dalam masa peralihan ? wallahu’alam. Tapi bukan itu intinya, intinya adalah-aku bahkan mungkin orang2 terdekatnya-kehilangan sedikit sosok keseharian bapak selama ini. Pasalnya sudah ada beberapa-memang tidak banyak-yang komplain atas sikap Bapak ini. Tapi aku sih tidak memblowupnya menjadi masalah yang serius. Aku berusaha memberikan pengertian-bahwa hal itu wajar Bapak lakukan-kepada orang yang curhat kepadaku atas rasa kurang berkenan yang dialaminya.

Sebagai individu, aku berusaha untuk memahami semua yang Bapak lakukan. Terkadang kalau sudah jengah, langsung aku banting pikiranku untuk berpikir bahwa : kenapa harus dipersoalkan toh Bapak sudah sepanjang hidupnya mengorbankan segala sesuatunya hanya untuk kita-anak2nya-, kenapa harus dipersoalkan toh Bapak sudah tua yang sudah barang tentu akan sangat sulit merubah karakternya, kenapa harus dipersoalkan toh Bapak hanya melakukan sedikit kesalahan yang sifatnya hanya keduniawian, kenapa harus dipersoalkan toh Bapak selama ini sangat taat dalam menjalankan perintahNya. Gitu aja kok repot…hehe

Aku sendiri memang juga pernah bersinggungan dengan Bapak. Dalam beberapa pandangan hal ini tentunya bisa dimaklumi. Tetapi aku mencoba menjadikan semua ’masalah’ agar bermuara kepada konsep sederhana : MEMAHAMI !.

Belajar memahami yang sedang aku jalankan tidaklah mudah-tetapi atas ijinNya-aku mencoba untuk sekuat tenaga memahami-terlebih Bapak adalah orangtuaku, orang yang memiliki otoritas keridhoan ALLAH bersamanya. MasyaALLAH betapa ALLAH MAHA PENGASIH dan PENYAYANG aku diberikan orangtua yang seperti Bapak. Dengan segala kekurangannya-Bapak adalah Bapak-orangtua yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk anak-anaknya. Aku sayang Bapak !

Proses memahami membawaku sampai kepada peristiwa di pagi ini. Pukul 8.30 tadi, aku mendapatkan telepon dari mang udin-adik mama. Percakapan antara mama dengan mang udin-lawan bicaranya-dilihat oleh Bapak yang sedang melintas didepannya. Kemudian setelah mengakhiri pembicaraan, Bapak bertanya : Siapa ? Mama menjawab : si Udin ! Bagaimana kabarnya dia ? lanjut Bapak. Katanya sehat semua; minta dikirimin pulsa-disusul oleh suara ktawa mama yang ringan. Aku pun tidak mau kalah menimpali, aku bilang : Jadi Pak, yang punya HP tapi sepuh gak cuma Bapak doank. Mang Udin juga …

Ajaibnya Bapak langsung tertawa kecil. Tiba-tiba aku merasakan keteduhan yang menyirami relung hatiku. AKU BERHASIL ! Berhasil membuat Bapak senang-sedikitnya tertawa kecil. Aku bahagia karenanya. Sedikitnya, aku telah memberikan baktiku untuk menghiburnya-yang jarang sekali bisa dilakukan oleh anak-anaknya-. Alhamdulillah segala puji bagiMu Ya Rabb. Segala puji atas limpahan karuniaMu, meskipun bagi orang lain ini adalah hal yang sepele-yang biasa sekali mereka lakukan dalam kesehariannya-tapi tidak untukku ! Terimakasih ya Rabb telah membuatku SANGAT BERUNTUNG !

PALING NIKMAT

Aku ingat betul saat dimana aku makan begitu nikmat. Bukan berarti sekarang rasa nikmat itu tidak ada. Hanya saja aku merasa ada beberapa waktu dalam hidupku yang aku anggap paling nikmat.

Saat pertama adalah ketika aku kecil dulu. Sewaktu masih duduk di bangku SD, aku senang sekali bermain. Bisa dibilang aku orang yang suka ’keluyuran’. Teman-temanku banyak. Tempat bermain juga tersedia. Wuih, pokoknya puaaaaaaaaas banget. Bisa dibilang masa kecilku sangat bahagia. Tidak seperti anak-anak sekarang yang waktu mainnya tersita oleh jadwal ekstrakurikuler. Bahasa Inggris, Balet, Piano, Bahasa Prancis, inilah, itulah. Bagus sih bagus tapi rasa-rasanya kok hidup hanya untuk memeras otak. Padahalkan otak juga butuh relaksasi ya dengan bermain misalnya J. Ah, tapi aku yakin itu sangat berguna sejauh proporsional dalam menjalankannya. Lagian, aku juga mau seperti anak-anak sekarang yang expert memainkan alat musik atau cas cis cus berbahasa asing, maklum saja dulu mana mampu orangtuaku memberikan fasilitas mewah seperti itu.

Selepas bermain di tengah hari bolong, terkadang aku merasa sangat lapar. Di saat seperti ini, tidak ada pilihan lain selain pulang. Tidak jarang kudapati rumah dalam keadaan sepi. Penghuninya sedang puas terlelap. Aku bingung. Bangunin Mama, tapi kasihan. Mmmm…tidak jarang aku inisiatif sendiri. Aku ambil kursi, meraih piring, buka lemari, dan ternyata lokasi lauknya jauuuuuh di atasku. Kursi yang kugunakan tidak bisa menjangkaunya. Waduh, mana perut tidak bisa kompromi lagi. Badan gemetaran saking laparnya. Alhasil, aku banting setir. Aku gunakan garam yang berjarak beberapa meter disampingku. Bukan untuk jampi-jampi :) . Tapi untuk ku taburi di atas nasi. Ku aduk rata. Dengan tanganku sendiri, ku lahap nasi berlauk garam itu. Subhanallah, nikmat sekali rasanya. Dalam hitungan menit, selesai sudah pertarungan siang hariku. Sisa-sisa makanan di jemaripun tak luput dari pandangan ! ku jilati satu-satu jari tangan bak mengabsen murid-murid sekolah J. Jilatan di kelingking pertanda aku telah meluluskan nafsu lapar duniawi. Alhamdulillah. Nikmat sekali rasanya.

Fabiayyiaalaaa irobbikumaatukadzdzibaan. Nikmat Tuhan Mu yang Manakah yang Kamu Dustakan.

AWARE

“Ran, di Al-Azhar ada yang disuka g ? Kalau ada nanti Dayat yang fasilitasi”

—Aku hanya tersenyum; tak bisa berkata-kata—

”Bener ini Ran, kalau ia nanti Dayat bantu. Emang kriterianya Rani gimana”

”Mmm … bingung jawabnya. Ya kayak Fachri Hamzah Wak Sekjen DPP PKS sama Fadel Muhammad ”

”Ya udah Rani nikah aja ama dia”

”Ihhh ya gak mungkinlah mereka kan udah punya istri”

”Lagian ditanya beneran juga”

”Lah, itu jg dijawabnya beneran lagi Yat”

”Kriteria Rani kayak gimana?”

Etc …

Pertanyaan Dayat –rekanku di Youth Islamic Study Club Al-Azhar sedikit mengganggu. Pasalnya aku sendiri belum tahu kriteria detail yang kuinginkan dari calon suamiku kelak. Bukan karena aku terlalu sibuk untuk sekedar memikirkan hal yang bisa dibilang penting ini. Tapi karena aku sendiri selama ini hanya berpatokan pada perkataan Rasul, bahwa carilah yang baik agamanya maka kamu akan selamat dunia akhirat.

Kalau dipikir-pikir, Dayat benar juga. Aku harus sudah mulai memikirkan sosok yang insyaALLAH akan mendampingiku kelak menuju keridhoanNya. AMIN.

Sedikit banyak aku memang sudah aware karakter laki-laki seperti apa yang aku suka selain agama-karena ini merupakan syarat MUTLAK. Aku suka orang yang BERANI, SEMANGAT, dan GOODLOOKING pastinya 

Fachri Hamzah adalah sosok yang semangat, tegas, dan goodlooking.
Fadel Muhammad adalah sosok yang tegas, reformatif, dan goodlooking.

Ya, kalau ditarik benang merahnya begitulah hasilnya.

Apa yang kuinginkan tidak sepenuhnya harus menjadi demikian. Artinya, aku juga akan meminta pertimbangan orangtuaku terlebih Mama. Dia mempunyai andil atasku karena dari rahimnyalah aku dilahirkan, maka Mama mempunyai HAK atasku. Semoga.

Jadi, insyaALLAH seandainya aku sudah mendapatkan kriteria pilihanku, maka langkah selanjutnya Mama dan Bapak yang akan memutuskannya. Apakah Ya atau Tidak. Wallahu a’lam.

SATU KISAH

BAJAI

Ada satu kisah yang bila aku mengingatnya aku menjadi orang yang sangat bersyukur.

Dulu, Bapak dan Mama di awal-awal membina rumah tangga hanya memiliki harta yang tidak seberapa. Kehidupan sangat sulit mereka jalani. Alhamdulillah, Bapak masih memiliki satu ladang nafkah : BAJAI. Kendaraan ini menjadi pelengkap disamping penghasilan utama Bapak sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Ketika Mama sedang hamil anak pertama, kehidupan menjadi sangat sulit. Kebutuhan membengkak. Meski saat itu pun pengeluaran juga tidak seberapa karena kepapan mereka. Bahkan anak pertama mereka lahir tanpa persiapan yang seyogyanya dilakukan oleh kebanyakan pasangan lainnya pada saat menanti anak pertama. Tanpa ditemani oleh Bapak yang sedang mencari nafkah, Mama berjuang melahirkan seorang diri. Bahkan ketika itu Mama tidak membawa persiapan lahiran ke rumah sakit. Subhanallah !

Ichsan- nama anak itu-kakak tertuaku. Kelahirannya pun sudah barang tentu akan membuat kebutuhan menjadi lebih, lebih dan lebih lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, Bapak HARUS MENJUAL BAJAI! Penopang agar dapur tetap bisa ngebul ini diputuskan untuk tergadai. Mau bagaimana lagi ????

Akhirnya, terjualah Bajai itu! Dulu, kendaraan yang berasal dari India ini hanya laku 500.000 perak. Kalau sekarang mungkin uang senilai itu hanya sehari bisa kuhabiskan di Mall.

Di sisi lain, ada kelegaan dalam hati Bapak dan Mama. Akhirnya mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka dan anak pertamanya. Alhamdulillah.

Kebahagiaan mereka menjadi lengkap ketika ada saudara dari Lampung-kampung halaman Bapak-berkunjung ke rumah. Ibu dan kakanya Bapak silaturahim. Mimpi apa ya Bapak sampai-sampai Ia mendapat keberkahan yang luar biasa dalam beberapa saat. Mereka pun disambut dengan sukacita. Mungkin dalam pikiran mereka, Ibu dan saudara Bapak datang berkunjung untuk menengok kelahiran putra pertamanya. Ternyata TIDAK !!!! Kedatangan Ibunya Bapak ingin meminjam sejumlah uang. Uang tersebut ditujukan untuk kakaknya Bapak itu. Alasannya ingin memulai usaha yang baru. Setelah sebelumnya usahanya bangkrut. Pertanyaannya, kenapa harus membawa Ibunya Bapak padahal dirinya sendiripun untuk datang hanya sekedar ke Jakarta mampu. Wallahu’alam.

Dengan kebesaran hatinya, dengan keluhuran jiwanya, dan atas kehendak ALLAH SWT, Bapak menyerahkan sejumlah uang yang diminta. Tidak banyak, hanya 500ribu rupiah. Ya, seluruh hasil penjualan Bajai-yang pada awalnya untuk menutupi kekurangan hidup-Ia serahkan sepenuhnya. Masya ALLAH !!! Bapak merelakan harta yang mungkin bisa dikatakan Ia cintai saat itu.

Kalau aku jadi dirinya, mungkin karena keegoisanku, aku tidak akan menyerahkannya. Karena bisa dibilang alasanku syar’i ketika itu : UNTUK MENUTUPI KEKURANGAN !!!. Tapi Bapak bukanlah Aku. Bapak tetap pada prinsipnya. Bukankah bila kita sudah mampu menyerahkan barang/harta yang kita cintai maka itu merupakan tanda keimanan. Dan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Subhanallah.

Dan kalau aku jadi Tuhan, Aku tidak akan membalas pahalanya dalam keadaan standar. Aku akan menambahkannya berlipat-lipat. Karena ada satu peristiwa terselip yang masih terkait dengan keikhlasannya. Dulu, kakak Bapak ini pernah menolak satu permintaan Bapak. Bukan permintaan yang biasa. Waktu itu Bapak ingin menyelesaikan studi Sarjananya. Karena tidak ada uang untuk ujian sarjana meski Ia sudah bekerja sebagai PNS kala itu. Bapak nekat pulang ke Lampung. Tidak ada pilihan lain, Ia berniat meminjam sejumlah uang kepada kakak Bapak itu. Sudah barang tentu ini dilakukannya dengan berat hati. Kakak Bapak sudah bisa dibilang dalam kondisi cukup karena bisnisnya. Aku bisa merasakan bagaimana terdesaknya kondisi Bapak saat itu, karena Aku tahu sekali prinsip Bapak yang tidak mau meminta-minta. Dan benar saja, permintaan Bapak TIDAK DILULUSKAN. Aku pun juga bisa merasakan bagaimana kecewanya Ia. Pertama, Ia sudah mengkhianati prinsipnya. Kedua, ternyata permintaan meminjam sejumlah uang untuk ujian kelulusan sarjananya pun tidak diluluskan. Masya ALLAH. Tapi, yang lalu biarlah berlalu. Ketika kondisi itu BERBALIK, Bapak BUKAN tipe PENDENDAM. Ia tetap membantu kakak Bapak ini meski dulu permintaannya pernah ditampik. Inilah salah satu sifat Bapak buah dari ketaqwaannya. Subhanallah, betapa luasnya hati Bapak. Semoga aku bisa menirunya. AMIN.

Ketika aku menuliskan ini pun, aku tidak sanggup menahan airmata. Air mata yang mengalir sebagai bentuk kesyukuranku pada Ilahi. Kesyukuran atas anugrah terlahirnya diri ini ke dunia dari seorang Bapak. Alhamdulillah.

Fabiayyi aalaaa irobbikumaa tukadzdzibaan. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.

NEKAD

Pulang dari aktifitas seharian hari sabtu menyisakan bekal baik materi dan non materi. Non materi pastinya banyak sekali. wawasan, networking, dan ketenangan batin serta masih banyak lagi. Bekal materi yang aku bawa pulang adalah sebungkus bakso :) . Bakso yang ku beli di tempat langganan.

Bermaksud membeli untuk menyalurkan hasrat lantaran melihat tampilan bakso yang nampak menggiurkan serta mampu mengundang lambungku untuk berbunyi.

Sesampainya di rumah tanpa basa-basi aku menuju dapur. Membuka bungkusnya dan menuangkan ke dalam mangkok berukuran sedang. Ku tinggalkan semangkok bakso itu di meja dapur. Aku rasa akan aman karena sepertinya penghuni rumah sudah masuk ke singgasananya masing-masing. Berganti baju di kamar, membersihkan make up, dan bersiap perang demi semangkok bakso :) .

Bismillah … baru saja siap ku sambar suapan pertama, kakakku mengagetkan dari belakang ”Nah ya ketauan …. bagi donk !’ Seolah tak menghiraukannya, langsung ku tebas saja suapan pertama itu. Kakakku sudah duduk di samping. Menunggu bakso di mulut selesai ku kunyah. ’Nih .. ’ kusodorkan mangkok bakso yang ada dihadapanku kepadanya. Selesai memakan satu suapan. Dia langsung ngeloyor pergi sambil mengucapkan terimakasih. Ku jawab ’Ia’. Dan langsung menerjang hasrat kembali karena sempat tertunda oleh sedikit gangguan teknis :) .

Astaghfirullah … tiba-tiba di kepalaku terbesit satu kata : MAMA. Ya, MAMA ! Aku merasa tidak enak hati. Makan dengan enak tanpa menawarkan dirinya. Mama memang cukup menyukai makanan yang satu ini. Kalau Bapak ku sih memang tidak suka mengkonsumsi makanan instan seperti ini. Bapak adalah tipe orang yang sangat selektif memilih makanan. Dia hanya memilih makanan yang halal dan thoyyib. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Aku tahan hasrat ku untuk melanjutkan suapan ke tiga. Aku bangkit sembari membawa mangkok bakso tersebut menuju kamarnya. Mengetok pintu dihadapanku. ’Ma, mau bakso gak ?’. ’Mama di kamar Batin’ jawaban dari dalam kamar yang bersumber dari sesosok laki-laki yang pastinya adalah Bapak :)

Aku buka kamar Batin. Dengan muka yang berkeringat dan menahan pedas, ku sodorkan mangkok sambil berkata ’Ma, bakso Ma’. Mama bangun dari tidur kecilnya. Meraih mangkok sambil menyendok bakso dan komponen lain di dalam mangkok tersebut. Dalam hati aku tertawa kecil lantaran melihat Mama yang masih berminat untuk makan meski dengan mata yang masih setengah terbuka. ’Udah .. ?’ aku tanya dia. Mama hanya mengangguk.

Aku pergi ke luar kamar kali ini bukan menuju ruang makan tapi langsung ke kamarku. Ku nyalakan TV, AC, dan duduk manis di lantai berhadapan dengan TV layar datar yang dibeli dari hasil keringatku. Tiga, empat, lima, enam suapan, dan seterusnya …. habislah bakso itu. Menenggak minuman berwarna yang mengandung Vitamin C. Ahhhh …. Kenyang ! Alhamdulillah. Aku bawa sisa peralatan perang ku itu ke dapur. Menyucinya. Mengambil gelas untuk ku isi dengan air putih. Berjalan kembali ke kamar.

Ku lirik jam berbentuk minnie mouse di salah satu sudut dinding kamar. Jarumnya menunjukkan angka 9 lewat 30 malam. Aduh ! penyakitku kambuh lagi. Ngantuk selepas Makan. No .. No … Aku gak boleh ngantuk ! Ku paksa saja mataku untuk tetap terjaga. Aku coba untuk duduk di lantai bermaksud menghindari tempat tidur. Ternyata tayangan biography salah satu tokoh dunia cukup menarik perhatianku sehingga musnah sudah rasa kantuk itu. Dua puluh menit berlalu. Ketika sedang asyik-asyiknya menyimak tayangan itu, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan. Mama membuka pintu kamar ternyata. Nampaknya dia masih lemas baru bangun tidur. Masih dengan mata yang memicing pertanda belum sadar benar, Mama bertanya padaku ’Ada cemilan gak, tadi kamu beli apa aja ?’. Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Entah kenapa, mungkin karena gaya ngomongnya yang terkesan seperti drunken master kali ya, hahaha. Aku jawab saja ’Ada mah’. Aku tangkap rona sumringa atas jawabanku baru saja. Takut-takut dia berkata lebih lanjut, langsung saja aku menimpali ’Tapi beli dulu Ma ..’ sambil tertawa kecil.

Cahaya itu redup kembali seketika. Aku menangkap guratan kekecewaan dari mukanya. Mama tidak berkata apa-apa. Entah karena masih mengantuk atau karena apa, sudah jelas bagiku bahwa Mama kecewa atas tingkahku yang meledeknya. Tanpa berkata-kata Mama keluar dari kamarku. AH ! Menyesal sekali aku telah berlaku demikian. Pikiranku menerawang meski mataku masih tertuju pada layar TV. Rasa bersalah menyelimuti hati. Tega sekali aku memusnahkan harapan Mama. Berpikir sebentar lalu memutuskan untuk membeli cemilan untuknya. Pertanyaan selanjutnya … BELI DIMANA ??? Lagian udah malam gini. Nanti kalau kenapa-kenapa di jalan gimana ? Semua pertanyaan tercipta di benakku. Mulai meragukan tekadku untuk memenuhi keinginan Mama. Menghapus rasa lapar yang sedang menjangkiti perutnya sekarang.

’Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh … bodo amat ! Mau apapun kek. Terjadi ya terjadilah ! Yang penting I MUST DO IT ! Jadilah aku bersiap-siap keluar rumah. Kali ini tidak menggunakan kendaraan apapun, hanya mengandalkan kedua kakiku. Setelah menutup pagar rumah, bingung mulai melanda. Mau kemana ya aku. Mmm … Gorengan ya gorengan. Tapi dimana belinya. Ah, kebetulan sekali ada orang yang lewat di depan pagar rumah. Heran juga melihat orang itu masih menggunakan payung meskipun hujan sudah reda. Gak penting amat sih pikiranku J. ’Mas, mau tanya, tukang gorengan deket sini di mana ya?’. Sejenak muka laki-laki itu sedikit bingung, mungkin dia sedang ’loading’ memikirkan jawabannya. ’Ooo..disitu mba, keluar komplek trus belok kiri. Ya lumayanlah kalo jalan kaki ’. ’Makasih ya Mas’. Kututup pembicaraan dengan mulai melangkahkan kaki sesuai arahan Mas tadi.

Sedikit gerimis ternyata. Benar Mas tadi. Pantes saja dia masih menggunakan payung. Jalan yang ku lalui sepi sekali. Ada rasa was-was menyergap. Takut-takut nanti ada orang yang mengintai. Menculik. Atau apalah yang mengancam keselamatan jiwaku. Yang bisa kuandalkan hanya doa. ’Ya ALLAH, mohon selamatkan aku !. AMIN.

Tak sadar ternyata sudah jauh aku melangkah meninggalkan rumah. Beberapa meter di depanku ada kumpulan cahaya yang berasal dari terang lampu. Berharap benar apa yang dikatakan Mas tadi. Dan benar saja. TUKANG GORENGAN !. Alhamdulillah … Akhirnya aku menemukannya. Tanpa basi-basi aku langsung mengamati satu per satu gorengan di depan mataku. Ku pilih dan ku masukkan ke dalam plastik yang disodorkan abangnya. Selesai. Ku srahkan sejumlah uang. ’Terimakasih Pak’. Keluar dari tenda tempat gorengan itu bernaung. Di depan tenda tadi ada toko kecil. Sebungkus plastik bergelantung di depannya. ‘Itu kan chiki yang biasa ku beli dan kebetulan Mama juga suka’. Aku tersepona oleh kehadiran chiki itu. Halah … mulai lebai deh J Aku beli 4 chiki, kumasukkan ke dalam plastik gorengan tadi bermaksud menghemat konsumsi plastik.

OK … MISI KALI INI SELESAI ! Selanjutnya …. PULAAAAAAAAAAANG !

Aku percepat langkahku. Dengan napas tersengal-sengal, akhirnya sampai juga di depan pagar rumah. Menutup sekaligus menggemboknya. Mencopot sendal. Memutar melewati taman kecil yang menghiasi halaman rumah menuju pintu ’emergency’ yang berada di bagian belakang rumah. Pintu ini ’shortcut’ menuju kamarku. Biasanya aku suka melewati pintu ini untuk menghindari rumitnya SOP bila melewati pintu utama karena harus menggunakan aneka rumus, hehehe.

Aku ganti baju yang sedikit basah terkena gerimis hujan. Langsung kubawa tentengan plastik hasil jarahan malam ini J. Alhamdulillah lampu di kamarnya masih menyala pertanda penghuninya masih terjaga. Aku ketok perlahan pintunya. ’Ma, udah tidur belum ?’. Tidak ada jawaban. Waduh, jantungku mulai berdebar takut-takut perjuanganku malam ini sia-sia. Baru saja mau aku ketok lagi, ternyata terdengar bunyi pintu dibuka. Mama keluar kamar … Dia kaget akan keberadaanku di depan kamarnya yang menenteng plastik. Sedetik kemudian dia tersenyum dan tertawa kecil. Mengambil plastik yang aku sodorkan padanya. Kami duduk di meja makan. Aku temani Mama memakan sejumlah panganan pengusir lapar itu. Tadinya aku berpikir untuk tidak makan lagi bermaksud menjaga berat badan. Ternyata aku tidak tega melihatnya makan sendirian. Aku comot saja chiki yang terbuat dari jagung itu. Kami pun mulai terlibat pembicaraan ringan. Sesekali aku menertawakan Mama yang memaksa memasukkan pisang goreng yang masih panas ke dalam mulutnya. Mulut Mama megap-megap karena kepanasan :) Konyol sekali perbuatannya. Pantes saja menular ke anaknya. Hahahaha …

Selesai sudah … waktu menunjukkan pukul 11 malam. Waktunya tidur. Kali ini aku harus NEKAD untuk memaksa tubuh ini untuk tidur. Besok aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk mengikuti kajian rutin di Masjid Al-Azhar. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa …. ternyata aku mulai mengantuk tanpa harus menjadi NEKAD !

AH MAMA …

Hal yang dapat mengusir kebosananku adalah bercanda dengan Mama. Membicarakan hal-hal yang lucu. Dan sesekali menggodanya. Mamaku bukan orang yang kaku. Dia cukup asik diajak bercanda. Terkadang dia juga suka melucu. Bahkan dia juga bisa meledekku balik. Tapi herannya aku tidak pernah mati kutu, aku selalu bisa membalas, yang membuat setiap akhirnya menjadi tertawaan. Cukup mengocok perut kami berdua.

Tempat yang biasa untuk berduaan dengannya ada di bagian paling belakang rumah kami. Ruangan yang diisi dengan sebuah tempat tidur berukuran single, bak baju bersih, dan lemari yang sudah cukup usang. Ruangan ini tidak ditempati oleh siapapun. Kalau pintunya dibuka. Angin sepoi-sepoi suka bertiup ke dalam ruangan ini. Pantes saja mamaku betah berlama-lama disini. Ngadem-katanya.

Tempat tidur itu sangat kecil untuk kami tiduri. Maklum, aku dan mamaku berukuran jumbo, hehehe. Tapi justru itu yang semakin menambah kemesraan kami. Kalau sedang ngobrol, aku suka iseng mencium lengan atasnya atau perutnya yang endut. Dia suka risih karena kegelian dan berlagak marah. Semakin dia berakting marah, semakin aku tambah frekuensinya, sampai ia berlagak marah sebenarnya, hahaha, iseng banget ya.

Kadang kami suka membicarakan tentang aktiftas setiap harinya. Kabar anak-anaknya; yang notabenenya adalah kakak-kakakku. Dan masih banyak lagi bahan pembicaraan lainnya. Mama juga suka menasihatiku. Begitupun sebaliknya. Aku juga suka memberi masukan terhadap sikap Mama yang harus diperbaiki. Kami berdua bisa saling melakukan hal yang sama. Dan ini yang membuat aku senang : PEMBICARAAN 2 ARAH !. Sikap ini yang aku suka darinya.

Aku suka meledeknya. Dan semakin panas bila aku menyinggung tentang Bapak. Panas disini maksudnya membuat Mama ’kena’ atas ucapanku. Senjata paling ampuh bagiku. Karena Mama pasti K-O ! dan hasilnya aku pasti tertawa dengan keras. Aku suka bilang, cieeee Mama, dapet salam Ma dari Bapak. Dia mulai cemberut manja kalau kusinggung tentang Bapak. Gimana Ma, udah dicium belum sama Bapak hari ini. Uhui !.

Menuanya usia mereka juga turut mengikis kemesraan yang ada. Bapak memang berperangai pendiam. Tidak banyak omong. Dan sangat karismatik. Bapak tidak suka bercanda. Karena Bapak berprinsip tidak mau berkata yang sia-sia. Tapi aku sangat memakluminya. Itu prinsipnya ! Kalau aku menggugatnya, sepertinya aku sangat tidak bersyukur. Aku selalu mengambil sisi positif dari sifatnya itu. Salah satunya, Bapak tidak akan mampu memiliki keberanian untuk melawan atasannya yang korup itu kalau bukan karena sifatnya yang TEGAS. Selain itu, NO BODY’S PERFECT !

Hal ini pula yang membuat Mama sedikit memiliki rasa sepi. Pasalnya Mama adalah orang yang berkebalikan dengan Bapak. Sometimes talk too much. Biasalah Ibu-Ibu !!!. Mama membutuhkan orang yang bisa diajak berbicara setiap waktu setiap saat. Terkadang Bapak tidak mampu memainkan peranan itu. Alhasil, kamilah anak-anaknya yang bisa menemaninya sebagai tempat berbagi.

Kalau kami semua sedang kumpul. Mama, Bapak, aku dan saudaraku yang lain. Aku suka mulai meledek Mama. ’Pak, Mama katanya mau diajak jalan-jalan tuh, bulan madu katanya’. Aku berusaha mengompori. Dan seperti biasanya, Bapak hanya tersenyum kecil, tidak balik menimpali. Dan Mama yang ada di sebelahnya cemberut manja. Kondisi ini membuat kami anak-anaknya tertawa meledek.

—————————————-

Kembali ke tempat tidur tadi, peraduan Aku dan Mama. Di sela-sela pembicaraan kami, terkadang Aku suka melakukan tindakan konyol yang mengundang Mama untuk memukulku. Aku suka memonyongkan bibirku padanya membentuk huruf O. Dia suka mencuri-curi untuk memukul bibirku. Dan aku selalu menangkisnya. Jarang sekali dia berhasil melakukan itu. Hanya sesekali saja. Itupun karena aku membiarkannya. Mengijinkannya untuk menang. Dia suka tertawa puas bila sudah melakukannya. Dan aku pun berpura-pura kesakitan (atau memang benar-benar sakit ya? Hahaha).

Pokoknya, aku benar-benar SANGAT BERSYUKUR. Kebersamaan dan kemesraan kami tentu tidak banyak dilakukan oleh pasangan Ibu dan Anak di luar sana. Peranan sebagai Ibu-Anak dan Teman dapat kami lakukan dalam waktu yang sama.

Tulisan ini kubuat,  setelah aku selesai menengok Mama di kamarnya. Aku biasa mengunjunginya setelah keluar rumah. Bermaksud untuk mencium tangannya. Tapi kali ini ia sudah tertidur. Alhasil, aku hanya bisa mengusap punggungnya. Membenarkan rambut putih yang menutupi mukanya. Dan mencium keningnya sambil berkata dalam hati ’ I LOVE U, MOM’

———————–

Seandainya nyawa menjadi taruhannya, aku mau memberikannya untukMu ! Karena sudah tak terhitung pengorbananmu untukku Ma. Sedangkan apa yang telah aku perbuat untukMu ??. Banyak sekali perbuatanku yang meremehkan keberadaanMu dan jauh dari memuliakanMu. AH MAMA !

MENIKMATI MINGGU PAGI

bumi_bintaro_permai

Hari ini tidak ada Studi Islam Intensif. Salah satu kajian di salah satu lembaga yang biasa ku ikuti. Tepatnya Youth Islamic Study Club Al-Azhar. Bingung mau ngapain. Masih terpaku di depan layar laptop. Tulisan sudah kelar. Email, Facebook, Friendster dan semua situs pertemanan lainnya sudah ku ulas. Muter otak mau kemana. Akhirnya ku temukan jawaban. Jogging, ya J-O-G-G-I-N-G !

Matiin laptop, ganti baju, beresin tempat tidur, pake sepatu, matiin ac, lampu, ngaca dikit :) , kunci kamar, cabuuuuuuuuuuuuuuuuut!

’ Ma, pergi dulu …Assalamu’alaikum’ kutinggalkan Mama-setelah mencium tangannya-yang masih melihatku dengan tatapan bingung ketika meninggalkan gerbang dengan pintu yang kutinggalkan dalam keadaan tidak tergembok.

Tanpa tujuan yang jelas, ku telusuri jalan. Mau kemana ya. Bawa uang cuma beberapa ribu. Ah, pusingin amat. Sambil celingak-celinguk takut-takut nanti ada kendaraan yang menabrakku. Sesekali aku berlari kecil. Tiba-tiba aku punya ide. Aku mau ke Kampung Sawah. Kampung Sawah adalah salah satu kampung di Kecamatan Pesanggarahan.

Dengan berpeluh keringat yang mulai bercucuran, sampailah aku. Lapar mulai melanda perut. Bunyi-bunyian ’protes’ nampaknya tidak bisa ku tahan.

Duduk dulu ah, cape. Pikirku.

Ada masjid -yang didirikan oleh pemilik yang sama dengan Masjid Kubah Emas di Depok- beberapa meter di depanku. Yang empunya memang bertempat tinggal di dekat masjid ini pertama kali. Masjid yang bisa dibilang cukup ekstrim di antara sekitarnya. Design yang mewah cukup untuk memalingkan muka orang-orang yang melintas.

Dengan napas tersengal-sengal, ku coba atur napas. Mataku tidak pernah lepas dari pandangan orang yang lalu lalang di depanku. Ada ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya. Sang anak tidak lepas melihatku sampai mereka berdua hilang dari pandangan. Jangan-jangan itu anak berpikir aku ini peminta-minta yang biasa nangkring di Masjid. Hahaha. Kalo dipikir-pikir ada benarnya juga sih. Aku berdandan gembel sekali. Berpakaian sekenanya.

Ada tukang bubur, sambil mengetuk mangkok dengan sendok sehingga mengeluarkan bunyi ’ting..ting..’. Disusul tukang ketoprak, jamu, bandeng presto dan tukang jajanan lain yang biasa mondar-mandir di pagi hari.

’Astaghfirullahal’azhim….’ Tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh tepukan di pundak. Hampir saja aku loncat. Aku berpikir yang tidak-tidak. Kirain ada yang mau membiusku. Halah lebai deh :)

’Assalamu’alaikum…’ sapa orang itu. Sesosok wanita, tinggi, berjilbab, aku tebak sepertinya dia sudah berkeluarga, paling banter beranak 3.

’Wa’alakumsalam …’ jawabku.

Dialog singkat pun bergulir selama beberapa menit. Dia bercerita banyak. Diantaranya karakter masyarakat sekitar. Sampai nasihatnya mengenai kehidupan rumah tangga. Dia bilang sebagai seorang perempuan, kita harus bisa mengaktualisasikan diri. Baik di dalam maupun di luar rumah. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungan. Sesekali ku aminkan setiap perkataan dan nasihatnya. AMIN Ya ALLAH !

Aku pamit. Melanjutkan petualangan. Kembali jalan menelusuri gang-gang kecil. Ada rumah petak kecil. Di depannya ada meja terhampar sayur-mayur. Seorang ibu sedang duduk sambil mengusir lalat yang mengerubungi dagangannya. Belum ada pembeli nampaknya. Tidak ada yang aneh. Beberapa langkah melewatinya, aku kaget. Ternyata di balik meja itu, ada sesosok laki-laki sedang menyuci pakaian. Pasti itu suaminya. Pikirku. Ironi yang menyejukkan mata. Ikhlas benar suami itu mengganti peranan sang istri. Ckckkkkk … HEBAT !

Ku tinggalkan sepasang suami yang bertukar peran itu. Beberapa meter di depanku ada anak laki-laki kecil berjalan sambil menenteng plastik berisi minuman. Sesekali ia menyedot cairan di dalamnya. Dalam hati, sudah ku hujat saja anak itu : PASTI MINUMAN TIDAK SEHAT !!!!. Ketika berpapasan, ku tanya anak itu, ’Minum apa dek ?’. dengan malu-malu ia menjawab ’Susu kedelai’. Terbelalak mataku seketika. Wah hebat benar anak ini, di tengah maraknya jajanan anak-anak yang tidak sehat, dia memilih untuk BERBEDA !. Andai saja anak-anak Indonesia seperti dirinya.

Wah bunyi lagi ! perutku sudah tidak bisa di ajak kompromi rupanya. Dan tepat sekali, ada lapak kecil berjarak 5 langkah di depan. Ada sekitar 2 pembeli sedang mengantre. Aku masuk. Duduk. Sambil sesekali tersenyum kecil kepada orang-orang ketika mata kami beradu. Ku lihat panganan yang tersedia. Ada ketupat, panci kecil berisi sayur, gorengan, nasi uduk, krupuk dan teko yang berisi teh pahit. Selesai melayani 2 pembeli tadi, si penjual menatapku. Pasti ia mau menanyakan makanan apa yang mau kupesan. Dengan sigap langsung ku jawab ’Lontong sayur 1, makan sini Bu !’ sebelum ia sempat melontarkan kata-kata. Kalau untuk urusan makanan biasanya aku selalu sigap :)

Aku menikmati semangkok lontong sayur dengan sangat khidmat. Pantes saja ku berlaku demikian, perutku lapar sekali. Sebelum kuhabiskan, ternyata ada tangan kecil menyodorkan gelas berisi teh di depanku. Berhenti sejenak, ku telusuri tangan itu, sampai nampak keseluruhan yang empunya tangan. Ternyata anak perempuan. CANTIK, berambut panjang. Ketika beradu pandangan, dia langsung menunduk ketika ku tersenyum padanya. ’Terimakasih. Namanya siapa ?’ mulai ku buka pembicaraan. Dia masih belum mau menjawab. ’Surti’. Jawaban itu bukan datang dari mulut anak perempuan tadi tapi dari si Penjual yang melayaniku. ’Ooo..’. Jawabku. ’Dia pemalu Mba’e. Kalau ditanya sama orang yang belum kenal ya begitu itu’ lanjutnya. Aku maklum. Mungkin karena takut denganku atau sifat minder yang biasa menjangkiti anak-anak seusianya. Ku lanjutkan menghabiskan makanan. Selesai. Ku tutup dengan doa. ’Berapa bu ?’ tanyaku sambil merogoh kantong jaket. ’dua ribu mbak’e…’ jawabnya.

Hah …Dua ribu ? Yang benar saja …. makanan yang mampu membuat perutku ’meledak’ ini hanya berharga segitu. Ck … ck … ironi sekali di tengah kondisi kota metropolitan yang serba mahal masih ada makanan pokok dengan bandroll 2-0-0-0 rupiah. Subhanallah. Pasti kecil sekali untungnya. Terkadang memang mereka berjualan hanya untuk menyambung nasib dan bukan mengejar keuntungan yang fantastis. Ku ulurkan tangan sambil menggenggam uang 5000 rupiah. Diterima dengan badan sedikit membungkuk tanda penghormatan dari Ibu Penjual. Pecahan seribu yang berjumlah 3 di ulurkannya kepadaku sambil berkata ’Terimakasih Mbak’e. Ku terima dan membalas ucapannya. Aku keluar lapak. Ternyata anak kecil yang membantu tadi sedang duduk. Ku hampiri saja dia. Duduk bersisian dengannya. ’Surti namanya ya?’. ’Ia’. ’Umurnya berapa’. ’15’. ’Sekolah?’.’Enggak’. ’Terakhir kelas berapa?’. ’Enam’.

Pembicaraan kami berhenti sejenak. Ada sesuatu yang bergetar. Ternyata Hapeku berbunyi. Ku angkat. Ida-adikku menelepon. Dia menanyakan keberadaanku. Intinya semua keluargaku mau pergi ke tempat kakakku yang sudah berumahtangga di daerah Serpong. Ia menanyakan apa aku mau ikut serta dengan mereka. Ku jawab ya maulah. Masa ditinggal sih. Aku bilang untuk menjemputku di jalan raya dekat lokasi aku berada sekarang.

Ku masukkan hape ke dalam kantong jaket kembali. ’Surti … semoga Surti nanti sukses ya. Dapat apa yang Surti inginkan. Terus berjuang untuk mendapatkan apa yang Surti mau…’ sambil ku belai rambutnya yang hitam panjang terurai. Ia masih saja tertunduk. Ketika ku bilang untuk pamit, baru Ia berani menangkat kepalanya memandangku. Kita saling menatap. Memberinya senyum, dan pasti itu senyum terakhirku padanya. Ajaibnya dia membalas, DIA TERSENYUM !!! Masya ALLAH manis sekali anak ini. Sungguh Cantik. Seandainya nasib berkata lain. Tentu ia sudah menjadi primadona di sekolahnya. Ia menyalamiku. Mencium tanganku dengan takzim. Sebelumnya sudah kusematkan beberapa lembar ribuan. Dia sedikit kaget. Langsung aku ngeloyor pergi, takut-takut dia mengembalikan uang itu kembali. ’Daghhhh… Surti !’

Wah, perjalanan menuju jalan raya terdekat cukup jauh dari sini. Pasalnya aku sudah menelusuri gang-gang di Kampung Sawah ini cukup dalam. Lelah, kenyang, pegel, campur aduk sudah kondisiku. Tapi aku harus berjuang, tidak ada ojek soalnya. Lagian juga malu, masa niatnya membakar eh malah menimbun lemak gini ya, hehehe. Ah…Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Tengok kiri kanan. Jangan-jangan aku sudah terlewati. Ku lirik jam, ah baru 5 menit sejak adikku menelepon. Pasti belum sampai. Dan benar saja, belum lama aku berdiri, aku melihat mobil yang cukup familiar untukku. Mobil butut berwarna hitam melintas di depanku sambil membunyikan klakson. Langsung aku berlari kecil menujunya. Masuk mobil dan melanjutkan petualangan minggu pagiku berikutnya …. berharap semoga petualangannya adalah wisata kuliner kembali. Hahaha … Dasar Gembul !

4i COPY PASTE

kick-andy

Judul di atas berbunyi empati copy paste. Tertulis demikian karena aku terinspirasi oleh sebuah tulisan karya Bung Andy F Noya. Diceritakan bahwa beliau sedang berkunjung ke salah satu restoran yang sudah mau tutup. Di sana ia melihat salah satu meja yang menjadi tempat pembantaian. Sampah berserakan di mana-mana. Terbayang pelayan yang membersihkan sampah-sampah yang menjijikan itu. Dan seterusnya … (please visit : http://kickandy.com/?ar_id=MTI4NA)

Setelah membaca tulisan tersebut, aku menghela napas panjang. Serasa ada sesuatu yang menghujam jantungku. Betapa niatku untuk menjadi lebih baik terasa masih jauh dari kesan sukses. Aku harus lebih baik lagi … ya, lebih baik lagi !

Pas sekali, paginya aku membaca artikel ini, langsung disusul oleh niatku, malamnya aku ’diuji’ oleh Yang Maha Kuasa atas niatku itu. Adikku mengajak aku dan 2 keponakan kami lainnya untuk makan malam di salah satu restoran lokal di daerah bintaro. Sesampainya di sana, kami pun memesan makanan. Aku berusaha memberikan senyuman terbaik untuk pelayan di sana. Tak lupa mengucapkan terima kasih atas hantaran makanan yang siap kami santap. Kami pun mulai melakukan ’pembantaian’ malam itu. :)

Setelah selesai, aku mulai menginstruksikan otot motorikku untuk membersihkan sisa-sisa panganan yang tercecer di meja dengan tissue. Dilanjutkan menata kembali beberapa perabot yang tersedia di meja kami. Mengumpulkan alat makan yang telah dipakai agar mudah dibawa oleh pelayan dan membuang sampah ke tempat sampah terdekat. Ada yang menarik dari kebiasaan baruku malam itu. Di saat aku mulai membersihkan sendiri (adik dan keponakanku sudah berada di kendaraan), di samping kami ada satu keluarga yang sedang menunggu makanan. Dari sudut mataku terlihat mereka melirikku. Mungkin mereka berpikir tindakanku ini aneh. Atau jangan-jangan mereka berpikir : dasar naluri pembantu kali ya, hahahaha. Nampak sekali seringaian di bibir mereka manakala aku melewati mereka sambil tersenyum. Biar saja, AKU TIDAK PEDULI !. Apapun yang bernilai kebaikan, insyaALLAH akan kulakukan. Dan yang paling subhanallah, salah satu pelayan menghampiriku. Dari mulutnya keluar kata-kata : ”Terimakasih Ibu … !” Nampak sekali aura ketulusan ucapan tersebut dari matanya.

AKU PUAS sekali malam itu. Entah apa yang membuatku demikian. Terasa ada air yang sejuk menyirami hatiku. Walaupun begitu, tetap saja manusia tidak pernah puas, ada satu yang mengecewakan hatiku malam itu : kata ’Ibu’ yang terlontar dari pelayan tadi. Aku belum jadi ibu-ibu tauuuuuuuuuuuuuuuuu…hehehe. Eh, tapi boleh juga tuh, artinya aku kan di doakan untuk menjadi seorang ibu. AMIN.

MMmm … terimakasih bung Andy atas tulisannya. Sampai sekarangpun, ketika aku makan di tempat umum sebisa mungkin kewajiban ini senantiasa kulakukan, minimal alat makan yang telah kupakai. InsyaALLAH. Ya Rabb, bantu hambaMu ini. AMIN.

PEKERJAAN KECIL yang BERDAMPAK BESAR

ganymed_earth_comparison

Sudah beberapa tahun ini aku melakukan pekerjaan rutin di rumah. Pekerjaan yang sangat menyenangkan menurutku. Dari sini banyak inspirasi bermula. Sambil menikmati setiap jengkalnya, aku mulai berfantasi beberapa tujuan hidup. Pekerjaan itu adalah : Membersihkan Kamar Mandi.

Sejak 2006, pekerjaan ini sudah rutin ku lakukan. Meskipun kami memiliki mba yang biasa membantu, sebisa mungkin bagian rumah yang satu ini HARUS menjadi porsiku ! Kalau aku kecolongan lantaran mba-ku sudah kepalang menyerobot pekerjaan ini, aku masih saja kurang puas akan hasilnya. Jadilah aku mulai memberikan finishing touch. Pokoknya The Room is Mine ! :)

Meski luasannya tidak terlalu besar, perlahan-lahan kamar mandi mulai ku dandani. Dimulai menulis doa masuk-keluar kamar mandi, berlanjut menaruh sedikit gambar-gambar bernuansa alam, bunga, aksesoris kamar mandi, memastikan ketersediaan tissue, dan memberi sedikit polesan pada bagian tertentu. Jadilah ia sebagai kamar mandi yang memberi kenyamanan untukku dan penghuni lainnya.

Ada beberapa inspirasi yang mulai menyeruak manakala aku sedang menyikat lantai. Beberapa permasalahanpun kudapatkan jawabannya di saat aku sedang asik membersihkan perabot kamar mandi yang mulai kotor. Dan masih banyak keasikan lain dari pekerjaan ’besar’ ini yang membuat pikiranku tiba-tiba menjadi liar. I LOVE IT so much …

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari hikmah dari pekerjaan ini. Aku mulai sadar akan arti menghemat air. Sampai-sampai aku menjadi sangat gerah ketika melihat keran air yang bocor dan meneteskan air setitik demi setitik. Atau betapa naik pitamnya aku di saat ada orang yang lalai mematikan keran yang membuat air bersih terbuang sia-sia. Ahhh … seandainya mereka menyadari betapa pentingnya arti setetes air bagi saudara-saudara kita di luar sana. Semoga.

Kalau ditanya bagaimana perasaanku dengan jabatan sebagai Direktur Kamar Mandi, akan ku jawab : Aku Sangat Bangga. Seolah-olah jiwaku sudah menyatu dengan bagian rumah yang terkadang banyak orang enggan berlama-lama di dalamnya. Melakukan hal yang tidak banyak dilakukan orang itu sangat menantang. Kejadian yang tidak pernah aku lupakan di saat aku membersihkan bagian rumah yang satu ini adalah : aku menemukan 2 RESOLUSI BESAR untuk tahun ini. Subhanallah … terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidupku : KAMAR MANDI-ku ! Sungguh suatu PEKERJAAN KECIL yang BERDAMPAK BESAR !!!

SESUDAH KESULITAN ADA KEMUDAHAN

poverty_jakarta_slum_life_little_boy_scavenging

Engkau seakan menjadi manusia paling berbahagia manakala setitik harapan atas angan-anganmu selama ini telah tampak. Engkau seakan-akan merasa bahwa dunia adalah seindah surga. Engkau (pun) juga akan meyakini bahwa tidak ada orang yang seberuntung dirimu di dunia ini. Tapi bagaimana bila sebaliknya ? Bila titik harapan itu kembali redup dan tidak berkembang menjadi seperti apa yang semula diharapkan.

Adalah bingkai kehidupan. Bingkai kehidupan bagi siapapun insan di dunia ini untuk merasakan suka duka. Adakalanya suka. Adakalanya duka. Silih berganti bak siang dan malam. Siapa yang dapat menduga, bila kita dalam keadaan suka, sejam atau bahkan sedetik kemudian-ternyata kita dalam keadaan DUKA. Tidak ada yang dapat memastikan. Kecuali Sang Khalik. Oleh karenanya, kita dianjurkan untuk tidak bersikap berlebihan. Dikala suka, siapkanlah diri kita untuk keadaan duka. Dikala duka, yakinilah bahwa duka akan berganti.

Akankah setiap makna dari setiap kejadian teryakini dengan baik di sanubari setiap insan bahwa selayaknya manusia harus bersikap netral atas dirinya ? Sulit, pasti sangat sulit, tapi BISA ! meski tertatih-tatih. Justru dengan proses itulah yang meninggikan derajat hamba di mata SANG PENCIPTA.

Teringat peristiwa di saat aku begitu bahagia. Begitu indah untuk diimpikan.

Aku seolah-olah lupa kalau hidup tidak selamanya indah, tidak selamanya bahagia. Terbuai akan keberuntungan hidup. Sejenak aku tersadar, bahwa tidak ada yang abadi, termasuk rasa bahagia. Akupun mulai menata hati. Waspada kalau-kalau dibalik suka ini tersimpan duka yang mendalam. Aku tidak ingin merugi. Berpikir sukanya gak seberapa, dukanya ampun-ampunan. Pikir pendekku. Alhasil, jadilah aku menjalani setiap detiknya dengan bersikap biasa. Tapi ternyata itu tidak berlangsung lama, perasaan suka yang menggelora hinggap kembali. Kali ini jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. AKU BAHAGIA !! TIDAK ADA SATUPUN YANG MENGHENTIKANKU MEMILIKI PERASAAN INI.

Dan benar saja, beberapa detik kemudian, rasa duka menyergap jiwaku ….kemudian disusul suka …dan begitu seterusnya ….

Hmmm … memang benar apa yang dikatakan : ’Sesudah kesulitan itu ada kemudahan… Sesudah kesulitan itu ada kemudahan’

PEJUANG ANTIKORUPSI-KU

Antikorupsi yang didengung-dengungkan oleh KPK adalah hal bagus untuk kebanyakan orang. Kenapa aku katakan kebanyakan, karena bagiku aku sudah lebih dulu didengungkan oleh sosok yang terdekat dalam hidupku : BAPAK. Beliau adalah PEJUANG ANTIKORUPSIKU.

Dari pernyataanku di atas, terkesan penuh keberpihakan sekali ya ? Hmmm … ya memang begitulah adanya. Beliau adalah sosok yang demikian.

Bapak adalah seorang pegawai negeri sipil dari salah satu instansi departemen. Pengabdiannya sebagai PNS saat ini sudah 43 tahun. Dari rentang tersebut, Ia sudah menjalani fase-fase heroik dalam menegakkan slogan : SAY NO TO KORUPSI !!!!

Bapak tidak pernah mengumbar kata-kata dalam menyeru pada kebaikan khususnya tentang antikorupsi. Ia kerap kali memberikan contoh melalui tindakannya. Dari tindakannya itulah, aku dan saudaraku mempunyai panutan terdekat dalam hidup.

Pernah ketika Bapak masih menjabat sebagai salah satu petinggi pada departemen yang terletak di Jalan Veteran itu, ia ’beradu otot’ dengan atasannya. Waktu itu, tugasnya sebagai ’orang yang meng-acc dokumen arus keluar dan masuknya uang negara’. Ada satu proposal yang diajukan oleh atasannya. Analisa Bapak, proposal itu fiktif. Jelas baginya untuk tidak memberikan ’ijin’. Mengetahui hal ini, atasan Bapak ’murka’. Entah bagaimana kejadiannya, mereka : Bapak dan atasannya, ribut di kantor. Meski ia sebagai bawahan, Bapak tidak gentar, walau apapun yang terjadi. Ia tetap tidak akan menandatanganinya meski adu otot atau sekalian saja ancaman pistol. Berani sekali Bapak, padahal ketika itu zaman orde baru, yang notabenenya korupsi masih sangat menggeliat. Dampaknya, mata-mata sinis dari orang-orang sekantornya menuduh seolah-olah Bapak adalah orang yang pembangkang. Bapak TIDAK PEDULI. Dia tetap menjalani aktifitasnya. YANG BENAR AKAN SELALU BENAR BEGITUPUN DENGAN YANG SALAH. Akhirnya, kasus ini terendus pihak yang berwenang. Bapak SELAMAT, karena memang Bapak TIDAK PERNAH TERLIBAT ! Akhirnya pasang mata yang sinis tersebut berbalik MEMBERI SELAMAT kepada BAPAK ! Alhamdulillah ..

Keberaniannya menegakkan antikkorupsi pun berbuntut panjang. Ketika pejabat-pejabat di lingkungannya mendapatkan mobil dari negara, BAPAK TIDAK MENDAPATKANNYA. Padahal, Ia terlanjur memberitahukan kabar gembira ini kepada Mama. Kebayang wajah Mama yang berseri-seri mendapatkan kabar gembira itu. Namun, hari yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung datang. Satu persatu teman-temannya dibagikan mobil. Namun Bapak terlewati. Padahal, bawahannya saja mendapat mobil tersebut. Bapak dan Mama pun tabah serta memutuskan tidak pernah menuntut atas haknya itu. Padahal kalau Bapak mau -jangankan mobil yang menjadi haknya-Ia bisa saja menjadi kaya mendadak, karena jabatan Bapak sangat ‘basah’, tapi hebatnya Bapak tidak memilih untuk itu ! Dan aku bangga akan hal ini ! ALLAHUAKBAR !!! Kalau mengingat ini, mataku langsung berkaca-kaca, terharu atas ketabahannya.

Tidak berhenti sampai disitu. Di lingkungan tempat tinggalku, salah satu komplek pemberian instansi tempat Bapak bekerja, keluarga kami dikucilkan. Maklum saja -beberapa orang yang kontra dengan tindakan antikorupsi yang Bapak lakukan- tinggal satu komplek dengan kami. Dan hebatnya, orangtuaku SABAR sekali, mereka tidak terpengaruh sedikitpun. Meski aku sedih-bahkan aku bisa menitikkan airmata-bila mengenang keluh kesah Mama yang merasa minder dengan ibu-ibu lainnya. Maklum, keluarga kami bukanlah dari golongan The Have. Tidak ada yang dapat Mamaku andalkan untuk bersosialisasi. Pantes saja ketika aku kecil, ada tanya dalam hatiku, kenapa Mama jarang bergaul dengan ibu-ibu di Komplek, apa karena kondisi kami yang papa ? Saat itu, aku tidak tahu, aku baru tahu sekarang-sekarang ini di saat kondisi ekonomi keluarga kami sudah membaik. Mendengar pengakuannya ketika itu, aku menangis dalam hati, karena dulu aku sempat berpikir bahwa Mama adalah seorang pemalas dan tidak mau bergaul. Maafkan aku, Ma !! ALLAH, Aku sayang MAMA, sayang sekali ALLAH !!!!

Akhirnya, kebenaranpun ditegakkan. Menurut penuturan Mama, orang-orang yang terlibat dalam kasus proyek fiktif tersebut di-USUT pihak berwajib. Beberapa diantaranya tinggal satu komplek dengan kami-yang mengucilkan keluarga kami itu. Semoga ALLAH SWT masih membukakan pintu taubat untuk mereka. AMIN.

Apakah berhenti sampai disini ? Bisa ditebak : TIDAK !!!

Berita MUTASI Bapak ke Timor-Timur pada tahun 1980-an pun masih ada kaitannya dengan perjuangan antikorupsinya. Bapak menerimanya dengan lapang dada. Padahal, ketika itu, Mama masih membutuhkan Bapak disampingnya. Bayangkan saja, Mama masih harus mengasuh anak-anaknya yang berjumlah 9 orang. Kita semua masih kecil-kecil. Bagaimana mengasuh anak sekaligus menjadi kepala keluarga yang harus diemban oleh Mama? Sungguh tak masuk logika ! Akhirnya, karena rahmat ALLAH SWT, Mama mengikhlaskan Bapak pergi bertugas di Timor-Timur. Jadilah Mama mengurus kami seorang diri. Masya ALLAH ….

Di Timor-Timur pun, ujian masih saja menghadang, disana Bapak juga mengalami hal yang sama. Ia pernah MENONJOK rekanannya karena GERAM atas tindakannya itu. Entah apa lagi yang Bapak telah lakukan untuk menegakkan kalimat : ANTIKORUPSI !. Karena selama di Timor-Timur, Mama tidak banyak bercerita pada kami.

Ketika Timor-Timur merdeka, Bapak harus keluar dari bumi lorosai itu. Akhirnya, Bapak dipindahtugaskan ke Propinsi Bandung. Disana, Bapak juga menjadi korban atas ketamakan atasannya. Ketika itu Bapak sebagai pengajar widyaiswara. Bapak diberhentikan secara sepihak. Atasannya tidak memberikan jadwal mengajar dan memaksanya untuk mengajukan pensiun dini.

————–(ZOLIM , BENAR-BENAR ZOLIM !!!!!—teriakku dalam hati—pernah aku berniat mengadukan ini kepada PRESIDEN, aku urungkan karena aku teringat prinsip hidupnya : TIDAK MAU MEMINTA-MINTA !!)——————-

Bapak menerima untuk tidak mengajar tapi kalau untuk pensiun dini ia urung melakukannya. Mungkin baginya, ada kekurangan dari dirinya sehingga ia diberhentikan sepihak sebagai pengajar, tapi kalau untuk pensiun sudah jelas baginya harus ada kesalahan yang bertentangan dengan tata aturan kepegawaian. Jelas saja Bapak menolaknya, Jejak Rekam Bapak selama ini tidak pernah cacat di mata hukum, kalau pun ia tentu Bapak tidak akan sampai pada Golongan Tertinggi : IVe.

Mendengar kezoliman ini, teman-teman Bapak bertindak. Mereka menggugat ’kasus’ ini untuk diselesaikan dengan hukum. Padahal Bapak TIDAK MEMINTANYA. Bagaimana bisa meminta, Bapak saja tidak mengatakan apapun kepada mereka, mereka sendiri yang mengetahui dari orang lain. Lama proses itu berlangsung. Aku dengar dari Mama, ternyata ada indikasi bahwa atasannya-yang memberhentikan sepihak Bapak itu-ingin ’menduduki’ posisi Bapak sebagai tenaga widyawaiswara, karena yang menginginkan posisi itu banyak bagi para pensiunan namun terbatas kursi bagi jabatan itu. Akhirnya, Bapaklah yang ia korbankan. Setelah beberapa bulan, kebenaranpun berpihak. Bapak kembali mengajar sebagai tenaga widyaiswara. Alhamdulillah. Lalu apa yang terjadi dengan atasannya ? Ia ternyata TIDAK mendapatkan posisi sebagai tenaga widyaiswara selepas pensiun karena TELAT MENDAFTAR ! ALLAHUAKBAR !

Semoga ALLAH SWT memberikan yang terbaik untuk atasan Bapak. AMIN.

Tepat per-1 Oktober 2008 , Bapak pensiun ! Genap di 65 tahun usianya (Bapak kelahiran 31 September 1943). Hmm .. akhirnya lepas sudah tanggung jawab Bapak sebagai abdi negara untuk menegakkan kalimat : ANTIKORUPSI !!! Semoga apa yang sudah Bapak lakukan dibalas oleh ALLAH SWT dengan surgaNya kelak. AMIN. Dan bagi kami, anak-anaknya, ternyata idealisme itu bukan hal yang awang-awang ! Aku dan saudaraku sudah mendapatkan contoh nyata di depan mata : BAPAK ! PEJUANG ANTIKORUPSIKU !!!



« Entri lama